Inilah Senjata Andalan Agen Rahasia
Kasusku.com, JAKARTA—Banyak petugas reserse atau detektif kepolisian yang biasa membawa lebih dari satu pucuk senjata api bila sedang bertugas. Selain revolver atau pistol otomatis yang diselipkan di pinggang atau dalam sarung di bawah ketiak, mereka juga sering membawa sepucuk revolver kecil yang disarungkan di pergelangan kaki. Tak jarang pula ada yang membawa pisau lipat sebagai alat bela diri jarak dekat, bila terpaksa harus bertarung di jalanan dengan para bandit.
Namun untuk para spion, mata-mata atau agen intelijen yang sedang menyamar , senjata api tidak selalu bisa dibawa dalam tugas. Bisa jadi karena mereka sedang menyamar sebagai orang yang tidak semestinya bersenjata, atau yang busananya tidak memungkinkan untuk menyimpan senjata.
Bisa juga karena mereka ditugaskan di luar negeri secara tidak resmi, sehingga tidak bisa membawa senjata berbahan logam melalui gerbang sensor di bandar udara atau pelabuhan.
Para agen tentu harus memiliki senjata yang bisa diandalkan dalam tugas rahasianya, termasuk untuk misi membunuh sasaran penting. Maka banyak dinas intelijen yang merancang sendiri senjata khusus bagi para agennya. Selain bentuknya harus berbeda daripada senjata biasa, alat rahasia itu juga harus bisa dibawa tanpa memicu kecurigaan aparat keamanan resmi atau para musuh yang sedang diintai.
Salah satu perangkat yang paling sering dimodifikasi jadi senjata adalah payung bertangkai panjang. Alat ini bisa dibawa oleh pria maupun wanita di cuaca panas terik atau pun hujan tanpa dicurigai.
Agen rahasia KGB Uni Soviet diketahui pernah memakai senjata payung untuk membunuh seorang tokoh politik Bulgaria yang mengasingkan diri di London, Inggris, pada tahun 1978. Peluru kaliber 0,22 mm yang ditembakkan dari ujung payung yang berlubang itu ternyata dilapisi racun jenis Ricin, sehingga korban tetap tewas meskipun hanya tertembak di kaki.
Berikutnya adalah tongkat kayu atau logam (Gambar 2) yang biasa dibawa orang Eropa berjalan-jalan. Para pakar senjata di Inggris mengembangkannya sejak akhir abad 19 dengan mekanisme tombol di bagian gagang sebagai pelatuk peluru mungil ukuran 0,22 mm. Ada pula versi lain berupa tongkat berongga dengan sebilah pisau panjang di dalamnya dan bisa dihunus dengan memutar gagangnya.Para agen terkadang mesti menyamar sebagai pemain musik untuk bisa mencapai targetnya. Sebatang flute (sejenis seruling dalam orkestra Barat) buatan tahun 1965 ini (Gambar 3) mampu menembakkan sebutir peluru kaliber 0,22mm dengan jitu dari jarak di bawah 5 meter.
Dinas Rahasia Jerman dan Amerika Serikat sudah mampu mengembangkan senjata pembunuh senyap berbentuk bolpoin pada Perang Dunia II (1939-1945). Agen mengokang senjata ini dengan menarik bagian atas bolpen yang berisi pegas dan pemantik peluru. Sebuah tombol mungil di badan bolpoin lalu ditekan untuk memicu tembakan peluru kaliber 0,22mm. Tembakan jitu dengan pegas yang kuat bisa mematikan sasaran dalam jarak maksimal dua meter.
Senjata lain dengan mekanisme serupa disebut Zip Gun (gambar No.4) yang ternyata bisa dibuat oleh pandai besi di rumah. Senjata yang kabarnya dikembangkan oleh gerilyawan Tentara Republik Irlandia (IRA) sejak pertengahan 1970-an itu terdiri dari dua batang pipa besi sepanjang 70-90 milimeter dan pengokang maupun pegasnya.
Agen Mossad Israel ketahuan pernah memakai senjata ini dalam operasi memburu para tokoh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang terlibat pembunuhan 11 atlet Israel pada Olimpiade Munich, Jerman Barat tahun 1972.
Senjata ini dikokang dengan menarik batang pelatuk di alur yang dilengkapi pegas. Pelurunya ditembakkan dengan melepas batang pengokang hingga memukul pantat sebutir peluru kaliber 0,22 mm. Jika perlu, senjata bisa dikokang lagi dan sebutir peluru lain dimasukkan ke laras.
Kelebihan dari senjata buatan tangan di atas adalah nyaris tidak ada suara letusan, karena memakai peluru kaliber mini yang minim mesiu. Kedua, komponen-komponennya bisa diurai sehingga tampak seperti produk logam yang terpisah-pisah dan tujuannya untuk pemakaian normal. Cara merangkainya kembali pun mudah dan ringkas, sehingga bisa cepat dipakai.
Turbiaux Palm-Squeezer Gun (gambar No. 5), dipatenkan oleh Jean Turbiaux sejak tahun 1882 sebagai senjata api untuk bela diri (self-defence) dengan bentuk silinder pipih dengan picu yang bisa disimpan di kantung baju tenpa kentara. Sepuluh butir peluru dipasang melingkar di rumahan amunisi berbentuk silinder, yang akan berputar setiap kali pegas picunya diremas.
Pengguna tinggal menempatkan senjata itu di telapak tangannya, lalu meremas (squeeze) pemicu di bagian belakang agar picu menohok pantat peluru. Laras senjata yang diselipkan di antara jari-jari tangan mampu menembakkan proyektil peluru kaliber 0,22mm dalam jarak 2-3 meter.
Para agen dengan izin membunuh (license to kill) tidak hanya menggunakan peluru untuk melaksanakan tugasnya. Racun kimiawi seperti Ricin, Sianida dan Curare (racun pelumpuh syaraf) lainnya adalah bahan ampuh untuk melumpuhkan atau membunuh dengan ciri-ciri yang sulit dideteksi. Bentuknya bisa serbuk, tablet atau cairan yang bisa dimasukkan ke tubuh korban dengan berbagai cara.
Gambar No. 6 adalah sejenis pistol khusus yang dirancang untuk menembakkan jarum suntik berisi racun ke tubuh korban. Pistol yang digerakkan dengan gas itu pernah dipakai agen FSB (pengganti KGB) Rusia untuk meracuni seorang mantan agen KGB bernama Markov yang telah meminta suaka di Inggris dan akan menulis buku yang bisa membongkar operasi-operasi KGB yang masih dirahasiakan.
Jarum suntik juga bisa dipasang di ujung payung atau tongkat dan bisa dikeluar-masukkan dengan picu tombol di gagangnya agar tidak mudah dicurigai. Jarum runcing itu juga diisi racun sehingga tusukan cukup diarahkan pada bagian kaki atau tangan.
Sebaliknya, cincin berongga (gambar No. 7) adalah alat pembawa serbuk atau tablet racun yang sulit dideteksi. Racun bisa dicampur ke dalam minuman atau makanan si korban. Cincin ini juga dipakai untuk membawa mikro film rahasia secara rahasia.
Intinya, apapun alat yang dipakai oleh para agen pembunuh itu, tujuannnya untuk memperlancar pelaksanaan tugas, mengeliminasi hambatan dan mencegah pihak musuh merampas senjata andalan mereka. (Win))
- 3 views

